Surat terbuka ibu suri rumah yang hampir menghadapi kemurungan

Surat terbuka ibu suri rumah yang hampir menghadapi kemurungan

Seorang ibu suri rumah yang hampir kemurungan menulis surat terbuka soal isi hatinya. Beliau mengeluarkan penderitaannya demi menyelamatkan diri dari kemurungan.

Di luar sana, banyak ibu suri rumah yang hampir atau sudah pun menghadapi kemurungan. Seringkali, mereka ditelan oleh kesedihan dan kemarahannya sendiri – tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.

Suara anak-anak dan kesibukan mengurus rumah tangga membuat seolah dunianya sangat ramai. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia merasa sangat kesepian. Tak ada seorang pun yang memahaminya.

Menjadi seorang suri rumah tangga bukanlah pekerjaan mudah. Selain menguras tenaga, seorang suri rumah seringkali harus memendam kesedihannya sendiri, terutama ketika jemu dengan rutin.

Apabila orang lain berkata jadi seorang suri rumah itu best kerana tidak akan rasa penat pergi kemana-mana, ibu suri rumah tu sebenarnya merasakan sebaliknya. Mereka penat kerana tidak dapat pergi kemana-mana.

Laura Harris juga merasakannya. Sebagai seorang suri rumah, beliau hampir menghadapi penyakit kemurungan. Namun, beliau berusaha bangkit dari kesengsaraannya.

Surat terbuka ini beliau tulis ketika sedang menjalani peranannya sebagai ibu suri rumah yang hampir menghadapi kemurungan. Curahan hatinya ini mungkin berkaitan dengan keadaan banyak ibu di rumah..

Tekanan yang aku rasakan mula meningkat ketika anakku yang berusia 2 tahun menolak untuk tidur siang. Tiba-tiba saja, kebiasaannya untuk tidur awal selama tiga jam runtuh.

Kerana itulah, aku kehilangan waktu untuk diri sendiri.

Aku tahu bahawa perasaan jenuh itu cepat atau lambat pasti akan datang. Aku tidak menyedarinya sampai akhirnya merasakan sendiri kesannya.

Aku bahkan sudah terlalu lelah untuk menangis.

Bukankah kemurungan adalah rasa marah pada diri sendiri? Aku sangat mengerti situasi seperti ini dan memahami jika anda mengalami masalah yang sama.

Ketika aku merasa keberangan tentang suatu perkara, aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Padahal, aku sedar bahawa di luar sana ada orang lain yang keadaannya jauh lebih parah dibandingkan keadaanku saat ini.

Saat itu terjadi, rasa marah yang menguasaiku telah membuat bahu ini terasa sangat berat. Rasa bersalah telah membungkam tangisanku.

Perasaan bersalahku mengatakan, “Kamu tidak pantas menangisi ini. Ada orang lain yang jauh lebih menderita darimu.”

Putriku yang berumur 2 tahun benar-benar tidak pernah tidur siang lagi. Dia sering memekik kencang. Aku berfikir, bahkan beberapa ibu tidak perlu terus menerus berada di dalam rumah ketika anak-anak sedang tidur siang.

Aku memang seorang ibu suri rumah. Namun, masing-masing diri kita selalu punya sisi rapuh.

Aku tidak boleh tidur sepanjang malam kerana bayiku sedang tumbuh gigi. Itulah yang membuatnya terus mengeluarkan suara mengerat bagaikan dua pedang yang sedang beradu. Putriku adalah seorang anak yang takut gelap dan sering lapar pada dini hari sehingga dia akan minta sarapan pada jam 4 pagi.

Aku baru bangun tidur jam 8 pagi. Bukannya bangun jam 6 pagi untuk menulis kerana tubuhku rasanya kering kerontang. Setiap jam tidur siang, mataku serasa panas terbakar.

Aku ingin jadi seperti pengusaha yang punya kisah kejayaan berupa mengawali harinya dengan bangun pagi-pagi sekali demi menggapai impiannya. Kenyataannya, itu tak pernah terjadi.

Hal itulah yang membuatku merasa jadi orang yang gagal. Gagal menata hidupku sendiri. Sehingga aku mula menumpuk perasaan marah kepada diri sendiri.

Rumahku hampir selalu berantakan. Aku juga sangat mendambakan masa-masa di mana suamiku mau menggantikan tugasku untuk memasak dan sesekali membantuku bersih-bersih. Tapi dia sendiri sedang bekerja keras demi keperluan keluarga kami dan selalu pulang ke rumah dalam keadaan sangat letih.

Jangan lupa bahawa dialah yang mengurus kereta, mengurus sampah, mendaur ulangnya kembali, dan memasang AC. Semuanya dilakukan tanpa mementingkan diri sendiri maupun aduan.

Yang membuatku merasa tak enak marah padanya adalah ketika dia sering melewatkan pelukan selamat malam dan ciuman dari anak-anak kerana sibuk bekerja. Itulah yang membuatku tenggelam dalam kemarahan.

Aku ingin punya waktu untuk diri sendiri setiap harinya. Jadi, aku menyalakan TV dan bermain games di HP.

Baru duduk sebentar saja, anak-anak akan merangkak di pangkuanku dan merengek supaya aku dapat main bersama mereka. Kalau tidak, mereka akan bertengkar ketika mula rasa bosan.

Aku sangat frustrated kerana suamiku selalu punya waktu untuk dirinya sendiri setiap kali dia berada di rumah. Di saat yang sama, aku harus bermain bersama anak-anak. Namun, tidak ada seorangpun faham keadaanku yang memerlukan ruang untukku sendiri sha

Yang membuat aku sangat marah pada diri sendiri adalah ketika aku berfikir bahawa ada banyak teman-teman dan anggota keluargaku yang menjadi single parent. Sedangkan aku dapat menikah dengan seorang lelaki yang baik dan mencintaiku.

Lagi-lagi, aku dihantam oleh kemarahanku sendiri.

Aku berfikir tentang teman-temanku yang tidak punya anak. Mereka tinggal naik kereta dan menghabiskan waktu petangnya dengan membaca buku di sebuah sudut coffee shop.

Mereka hanya perlu mengambil jaket, naik kereta, dan pergi begitu saja. Aku memimpikan dapat menjalani hari-hari macam itu,

Bandingkan saja denganku.

Dengan dua anak usia di bawah 3 tahun, aku harus menukar lampin mereka terlebih dahulu; memakaikan sepatu mereka, memasang mantel dan topi. Kemudian, aku harus mengemas beg berisi lampin, tisu, makanan ringan, cangkir, pakaian ekstra untuk jaga-jaga, krim bayi, dan buku selama perjalanan dalam kereta.

Aku juga harus bersiap untuk diriku sendiri. Menempatkan setiap anak di kursi keretanya (dengan harapan bahawa mereka tidak rewel), lalu buru-buru masuk lagi ke dalam rumah ketika aku lupa untuk membawa sesuatu.

Aku akan berkendara menuju rumah baby sitter, mengeluarkan anak-anak dari mobil, ngobrol dengan baby sitter selama lima menit, menyetir, barulah kemudian tiba di tempat tujuan dan mengatur durasi kunjungan.

Kemudian aku akan menjemput anak-anak, membayar baby sitter, dan pulang ke rumah. Semua proses itu memakan waktu minimal satu jam lebih lama dibanding mereka yang tidak punya anak-anak.

Hal itu membuatku berfikir soal teman-teman yang tidak belum punya anak ataupun yang belum menikah. Dibanding mereka, nafsuku untuk baca buku di pojokan kafe jadi terdengar remeh temeh. Tebak, kemana perginya kemarahanku? Yak, kamu betul.

Aku tidak akan bilang bahawa aku depresi, setidaknya, tidak parah. Aku akhirnya dapat menggali cara untuk mengekspresikan rasa bersalahku.

Aku mencuba untuk mencari tahu bagaimana cara berhenti menghukum diri dengan keadaan orang lain. Menghapus aplikasi facebook adalah langkah awal yang baik. Aku juga lebih banyak berdoa.

Aku juga mencuba untuk menyampaikan apa yang aku perlukan dari suamiku daripada sibuk merungut terus di dalam hati. Contohnya, dia adalah orang pertama yang membaca artikelku.

Setelah tenggelam dalam hari yang berat, aku duduk di lantai kamar mandi. Lalu aku membuka aplikasi inkpad di tabletku dan menumpahkan semua ledakan yang sempat terpendam.

Aku membiarkan tulisanku mengalir, seolah aku benar-benar menangis untuk mendapatkan pertolongan.

Ketika aku sudah selesai menulis, aku menyerahkan tabletku kepada suami. Saat dia membacanya, aku mengalungkan kedua lenganku di lengannya sambil memandang tulisanku, nafasku terasa sesak.

Saat suamiku sudah selesai membacanya, ia berkata, “terimakasih telah terbuka padaku.”

Aku belum selesai. Rasanya seperti terjepit di sesuatu tempat. Itulah sebabnya mengapa aku sangat mengerti mengapa banyak sekali ibu yang tenggelam dalam kemurungannya.

Ketika seorang ibu mengatakan mandi air hangat sebagai sebuah kekuatan atau kopi sebagai penyangga hidup mereka, mereka memang serius.

Parenting itu susah. Ini adalah hal yang luar biasa dan sukar.

Seorang ibu tidak selalu memerlukan liburan atau blender mewah saat hari jadi. Hadiah seperti itu memang hebat, tetapi yang mereka perlukan sebenarnya lebih sederhana dari itu.

Mungkin mereka hanya perlu lompat ke dalam kereta dan pergi ke suatu tempat tanpa anak-anak. Mereka mungkin hanya perlu menjalani satu pagi untuk diri sendiri setiap bulannya.

Mereka mungkin hanya perlu hidangan hangat tanpa perlu mencuci piring atau membersihkan dapur.

Sekarang, ingatlah ibumu. Telefonlah, kirim email, SMS, atau tulis surat dan katakan bahawa dia seorang yang sangat mengagumkan. Jika dia menolak pujian itu, ancamlah bahawa anda akan segera menjemput dan belanjakannya milkshake.

Jika ibu merasa kemurungan, luangkan waktu untuk diri sendiri. Keluarkan tangisan dan penderitaan anda dalam tulisan atau media lainnya. Semoga ibu tabah menjalani segalanya.

Ada isu keibubapaan yang buat anda risau? Jom baca artikel atau tanya dan dapat terus jawapan dalam app theAsianparent kami! Download theAsianparent Community di iOS dan Android sekarang!

app info
get app banner